Biaya & Harga

Berapa Harga Website yang Wajar di 2026? (Biar Nggak Ketipu, Nggak Kemahalan)

Harga jasa pembuatan website bisa dari ratusan ribu sampai puluhan juta — dan semuanya disebut "website". Kita pakai analogi cetak brosur biar kamu paham apa yang sebenarnya kamu bayar.

Kalau kamu lagi cari-cari harga jasa pembuatan website, pasti pusing. Satu orang nawarin Rp300 ribu, yang lain Rp5 juta, ada juga yang berani pasang Rp50 juta. Semuanya bilang "bikin website". Lah, bedanya di mana? Apa yang Rp50 juta itu nipu, atau yang Rp300 ribu itu yang abal-abal?

Tenang. Jawabannya bukan "yang mahal pasti bagus" dan bukan juga "yang murah pasti jelek". Jawabannya: kamu lagi membandingkan barang yang sebenarnya beda-beda. Dan supaya gampang paham, kita pakai contoh yang sehari-hari kamu lihat: cetak brosur.

Bayangkan kamu mau cetak brosur. Di percetakan ada tiga pilihan: ada yang Rp500 per lembar — pakai template jadi, tinggal ganti nama tokomu. Ada yang Rp5.000 per lembar — desain dibikin khusus buat kamu, layout rapi, foto produkmu sendiri. Dan ada yang Rp50.000 per lembar — kertas tebal mengkilap, finishing emas, kelas undangan pernikahan sultan. Ketiganya disebut "brosur". Tapi hasil dan peruntukannya jelas beda. Nah, harga website itu persis seperti ini.

Nggak ada yang "menipu" di sini. Yang ada cuma kamu perlu tahu kamu lagi beli yang mana, dan apakah itu cocok buat kebutuhanmu. Yuk kita bedah satu-satu.

Rentang Rp300–700rb: "Brosur template Rp500"

Ini website paling dasar. Biasanya pakai template siap pakai yang tinggal diganti nama, logo, dan beberapa foto. Cocok banget buat kamu yang baru mulai dan cuma butuh "kartu nama digital" — satu halaman yang isinya: ini tokoku, ini yang aku jual, ini cara hubungi aku via WhatsApp.

Apa yang kamu dapat di rentang ini jujurnya: tampilan rapi, gampang dibuka di HP, bisa langsung online. Apa yang biasanya nggak kamu dapat: halaman yang banyak, fitur khusus, atau desain yang benar-benar beda dari toko sebelah. Itu wajar — ibarat brosur template, kamu hemat karena nggak bayar jasa desain dari nol.

Di Nakoda, paket termurah Mulai Rp650rb ada di rentang ini. Buat warung, toko kecil, atau jasa perorangan yang penting "ada wujud online dulu", ini titik awal yang masuk akal. Nggak perlu malu mulai dari sini — yang penting jalan.

Rentang Rp1–2jt: "Brosur desain custom Rp5.000"

Ini lompatan yang paling banyak dicari UMKM yang sudah agak serius. Di rentang ini, website-mu mulai didesain menyesuaikan brand-mu sendiri — bukan template pasaran. Halaman lebih dari satu (profil, katalog produk, kontak, mungkin galeri), struktur lebih rapi, dan sudah disiapkan supaya gampang ditemukan di Google.

Analoginya seperti brosur Rp5.000 tadi: desainnya dibikin khusus buat kamu, foto produkmu sendiri, tata letak yang mikirin calon pembeli. Hasilnya kelihatan lebih meyakinkan — toko baju yang punya website seperti ini terlihat lebih "beneran" daripada yang cuma jualan di story WhatsApp.

Di Nakoda, ini rentang paket Bisnis Rp1,5jt dan Pro Rp1,9jt. Buat klinik, salon, kontraktor, atau toko yang mau dianggap profesional dan dipercaya pelanggan baru, ini titik paling pas. Sebelum bayar DP ke siapa pun, ada baiknya kamu baca dulu tanda jasa website terpercaya dan red flag sebelum bayar DP — biar uangmu nggak salah jalan.

Rentang Rp3–5jt ke atas: "Luxury printing Rp50.000"

Ini kelas premium. Desain benar-benar dari nol, ada sentuhan khusus, fitur yang lebih kompleks, dan perhatian ke detail yang bikin website-mu beda sendiri. Cocok buat bisnis yang brand-nya jadi senjata utama — misalnya butuh tampilan mewah, animasi halus, atau pengalaman pengunjung yang memang dirancang matang.

Di Nakoda, paket Premium Rp2,9jt menyentuh kelas ini. Tapi jujur: kalau kebutuhanmu sudah masuk fitur berat seperti sistem pemesanan rumit, akun pengguna, atau alur transaksi khusus, itu sudah bukan "website biasa" lagi — itu mulai masuk wilayah aplikasi. Brosur Rp50.000 itu indah, tapi kalau kamu sebenarnya butuh buku katalog 100 halaman, ya alatnya beda lagi.

Bingung paketmu yang mana? Cerita aja kebutuhan bisnismu, kami bantu carikan yang paling pas — gratis, tanpa paksaan.

Hati-hati harga "terlalu murah" — dan harga "terlalu mahal"

Kalau ada yang nawarin website lengkap dengan harga jauh di bawah rentang wajar, pelan-pelan dulu. Bukan berarti pasti penipu, tapi tanyakan: domain dan hosting atas nama siapa? Setelah jadi, kalau mau ganti nomor WA atau tambah produk, siapa yang urus? Ini penting banget — kami bahas tuntas di artikel soal domain dan hosting atas nama siapa. Banyak orang baru sadar website-nya "dipegang" orang lain setelah telanjur.

Sebaliknya, harga yang kelewat mahal juga belum tentu sepadan. Mahal itu wajar kalau kamu memang dapat desain custom, struktur yang rapi, dan dukungan setelahnya. Tapi kalau mahal cuma karena nama besar tanpa kejelasan apa yang kamu dapat, itu yang perlu kamu pertanyakan. Intinya: bukan murah atau mahal, tapi jelas dapat apa.

Yang sering kelupaan: total biaya kepemilikan

Ini bagian yang paling banyak orang lupakan, dan paling sering bikin kecewa. Harga pembuatan itu cuma harga di awal. Website, sama seperti motor, butuh perawatan supaya tetap jalan: hosting diperpanjang, sistem di-update biar nggak gampang dibobol, konten diperbarui, dan kalau ada yang error ada yang benerin.

Bayangkan dua jalan. Jalan pertama: kamu bayar website murah, lalu dibiarkan sendirian. Setahun kemudian hosting kelupaan diperpanjang, website hilang, atau kena hack karena nggak pernah di-update. Akhirnya kamu bayar lagi dari nol — yang "murah" tadi jadi mahal. Jalan kedua: kamu ambil website plus perawatan rutin, misalnya Paket Rawat mulai Rp99rb per bulan. Ada yang jaga, ada yang dihubungi kalau ada masalah, website-mu hidup terus.

Coba hitung: Rp99rb sebulan itu setara satu-dua kali ngopi di kafe. Demi memastikan "etalase online" tokomu nggak tutup mendadak, itu murah. Inilah yang dimaksud total biaya kepemilikan — yang dilihat bukan cuma harga beli, tapi total selama dipakai. Website yang "kelihatan murah" tapi nggak dirawat sering kali lebih mahal dalam jangka panjang.

Jadi, berapa harga jasa pembuatan website yang wajar?

Wajar itu relatif pada kebutuhanmu. Buat sekadar hadir online, Rp650rb sudah wajar. Buat bisnis yang mau tampil profesional dan dipercaya, Rp1,5–1,9jt itu pas. Buat yang brand-nya jadi senjata utama, Rp2,9jt sepadan. Yang nggak wajar adalah harga yang kamu bayar tanpa tahu kamu dapat apa, atau yang nggak memikirkan biaya perawatan setelahnya. Kalau mau lihat rincian tiap paket berdampingan, semuanya terbuka di halaman harga Nakoda.

Kalau kamu masih ragu paketmu yang mana, jangan dikira-kira sendiri. Ceritakan bisnismu — jualan apa, mau dipakai untuk apa, target pelangganmu siapa — dan biar kami bantu carikan yang paling masuk akal untuk kantongmu. Nggak ada salahnya bertanya dulu sebelum mengeluarkan uang. Bertanya itu gratis; salah beli itu yang mahal.

Pertanyaan yang sering ditanya

Kenapa harga website bisa beda jauh, dari ratusan ribu sampai puluhan juta?

Karena yang dijual sebenarnya beda-beda, mirip brosur template Rp500 vs desain custom Rp5.000 vs luxury printing Rp50.000. Yang murah biasanya pakai template, yang mahal didesain khusus dengan fitur lebih. Yang penting kamu tahu kamu dapat apa di harga itu.

Website murah Rp300-700rb itu aman atau abal-abal?

Aman, asal kamu paham itu kelas dasar untuk sekadar hadir online. Yang perlu kamu tanyakan: domain dan hosting atas nama siapa, dan siapa yang urus kalau mau diubah nanti. Itu jauh lebih penting daripada sekadar harga murahnya.

Selain biaya bikin, apa lagi yang harus saya siapkan?

Biaya perawatan rutin. Website butuh hosting diperpanjang, sistem di-update, dan diperbaiki kalau error. Paket Rawat mulai Rp99rb per bulan memastikan website-mu tetap hidup. Tanpa perawatan, website murah sering jadi mahal karena harus bikin ulang.

Masih bingung pilih paket yang pas?

Cerita kebutuhan bisnismu, dan biar kami bantu carikan paket website yang masuk akal untuk kantongmu — gratis, tanpa paksaan.